Ruang kelas untuk sementara ditinggalkan. Pada 22 Mei 2026, mahasiswa Program Studi Akidah dan Filsafat Islam angkatan 2023 berkumpul bukan di dalam kelas, bukan juga di auditorium, melainkan di Citra Satwa Celebes, lembaga konservasi satwa yang terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Mereka datang untuk sebuah pengalaman yang akan ditautkan dengan pengetahuan mereka pada mata kuliah Ekoteologi yang diampu oleh Prof. Dr. Muhaemin Latif, M.Th.I.,M.Ed dan Andi Ulfa Wulandari, S.Ag., M.Ag.
Kegiatan ini diinisiasi agar pembelajaran ekoteologi tidak berhenti pada teks dan teori di kelas. Para dosen mengajak mahasiswa untuk melihat langsung bagaimana relasi manusia, alam, dan makhluk hidup lain bekerja di lapangan, serta menyaksikan secara nyata bentuk keindahan ciptaan Tuhan yang perlu dijaga.
Sepanjang kunjungan, mahasiswa diajak mengamati upaya rehabilitasi, perawatan, dan menebarkan kasih sayang juga kepada satwa. Di hadapan kandang-kandang konservasi, berbagai tanya mengalir bukan hanya soal ekologi, tetapi juga soal makna keberadaan manusia sebagai bagian dari sistem kosmik.
Ekoteologi memaksa kita membaca ulang dua ayat sekaligus, yakni ayat kauniyah yang terbentang di alam, dan ayat qauliyah dalam Al-Qur’an. Ketika mereka melihat anoa yang terancam punah, itu bukan sekadar data konservasi. Itu adalah tanda. Kehilangan satu spesies adalah robeknya satu baris dalam kitab semesta yang dituliskan Allah.
Dosen dan mahasiswa bersama-sama menelusuri konsep khalifah fil ard. Jika manusia adalah khalifah, maka tugasnya bukan menguasai alam secara eksploitatif, melainkan menjaga keseimbangan yang telah ditetapkan.
Setelah puas berkeliling dan menyaksikan ragam satwa, dosen mengajak mahasiswa duduk melingkar untuk mendiskusikan beberapa hal terkait konservasi satwa. Konservasi satwa di tempat seperti Citra Satwa Celebes sesungguhnya adalah bentuk praktis dari ihsan. Ia mengubah tauhid dari sekadar pernyataan lisan menjadi tanggung jawab ekologis.
Mahasiswa juga diajak merenungkan konsep mizan atau keseimbangan. Kerusakan lingkungan dilihat bukan hanya sebagai krisis sains, tetapi sebagai krisis spiritual akibat manusia melupakan posisinya sebagai pemelihara, bukan pemilik mutlak. Kegiatan di luar kelas ini mengubah wajah mata kuliah Ekoteologi. Diskusi yang biasanya abstrak tentang “relasi Tuhan-alam-manusia” kini menemukan bentuk konkretnya pada perawatan orangutan, interaksi dengan satwa endemik, dan dialog yang hidup di tengah rimbunnya pepohonan di lembaga konservasi.
Bagi mahasiswa angkatan 2023, pengalaman ini menjadi jembatan antara refleksi teologis dan aksi nyata. Ekoteologi tidak lagi sekadar cabang teologi, tetapi sebuah panggilan untuk menjadi saksi dan penjaga atas amanah yang dititipkan di bumi.