Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
Mahasiswa Ilmu Politik UIN Alauddin dan Bawaslu Sulsel Perkuat Pengawasan Partisipatif Pemilu di Gowa

Mahasiswa Ilmu Politik UIN Alauddin dan Bawaslu Sulsel Perkuat Pengawasan Partisipatif Pemilu di Gowa

Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar bekerja sama dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar kegiatan “Sosialisasi dan Penguatan Pengawasan Partisipatif dalam Pengawasan Penyelenggaraan Pemilihan Umum di Kabupaten Gowa”.

Kegiatan tersebut berlangsung di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar dan dihadiri oleh mahasiswa, akademisi, serta peserta dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Forum ini menjadi ruang akademik yang mempertemukan dunia kampus dengan lembaga pengawas pemilu dalam upaya memperkuat budaya demokrasi yang partisipatif dan berintegritas.

Mahasiswa terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Ruang seminar dipenuhi peserta yang aktif menyimak pemaparan narasumber, berdiskusi, serta menyampaikan pandangan kritis mengenai pengawasan pemilu, partisipasi publik, politik uang, hingga tantangan demokrasi digital di era media sosial.

Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan Keputusan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar Nomor 4079 Tahun 2025 tentang Panitia Pelaksana Kuliah Tamu “Sosialisasi dan Penguatan Pengawasan Partisipatif dalam Pengawasan Penyelenggaraan Pemilihan Umum di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan”.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam mengawasi jalannya pemilu. Mahasiswa dinilai memiliki posisi penting sebagai kelompok intelektual muda yang mampu menjadi penggerak kesadaran politik di tengah masyarakat.

“Mahasiswa harus menjadi bagian dari penguatan demokrasi. Pengawasan partisipatif adalah bentuk kepedulian masyarakat untuk menjaga pemilu tetap jujur, adil, dan transparan,” ujar salah satu narasumber dalam sesi diskusi.

Kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa Ilmu Politik untuk memahami bagaimana teori demokrasi dan pengawasan politik diterapkan dalam praktik kelembagaan negara. Berbagai isu strategis dibahas dalam forum tersebut, mulai dari pengawasan tahapan pemilu, netralitas penyelenggara, penguatan partisipasi masyarakat, hingga tantangan disinformasi politik di ruang digital.

Salah seorang mahasiswa peserta kegiatan menyampaikan bahwa forum akademik seperti ini sangat membantu mahasiswa memahami realitas politik secara langsung.

“Kami tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga belajar memahami dinamika pengawasan pemilu secara nyata. Ini menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa Ilmu Politik,” ungkapnya.

Selain memperkuat literasi politik mahasiswa, kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga negara dalam membangun demokrasi yang berkualitas. Kampus dipandang sebagai ruang strategis dalam menciptakan generasi muda yang kritis, aktif, dan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masa depan demokrasi Indonesia.

Melalui kegiatan sosialisasi dan penguatan pengawasan partisipatif ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen demokrasi yang tidak hanya memahami politik secara teoritis, tetapi juga mampu terlibat aktif dalam menjaga integritas pemilu dan memperkuat pengawasan publik di tengah masyarakat.

“Demokrasi yang kuat lahir dari partisipasi masyarakat yang sadar, kritis, dan aktif mengawal jalannya pemilu.”