Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
KINMU-NSW #6 FUF UIN Alauddin Makassar Bahas Radikalisme dan Moderasi Beragama dalam Perspektif Ushuluddin

KINMU-NSW #6 FUF UIN Alauddin Makassar Bahas Radikalisme dan Moderasi Beragama dalam Perspektif Ushuluddin

Makassar, 22 September 2026 — Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makassar kembali menghadirkan ruang akademik melalui KINMU-NSW #6 dengan mengangkat tema “Radikalisme dan Moderasi Beragama dalam Perspektif Ushuluddin.” Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi intelektual sekaligus membangun jejaring akademik antarmahasiswa dan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri.

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa (22/9/2026) tersebut dibuka secara langsung oleh Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar, Syahrir Karim, M.Si., Ph.D. Dalam pembukaan kegiatan, beliau memberikan apresiasi terhadap terselenggaranya forum akademik yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai PTKIN dalam membahas isu keislaman yang memiliki relevansi dengan dinamika kehidupan masyarakat.

Tema mengenai radikalisme dan moderasi beragama dipandang penting untuk terus didiskusikan dalam lingkungan akademik. Melalui perspektif Ushuluddin, pembahasan tidak hanya diarahkan pada pemahaman konseptual, tetapi juga pada bagaimana mahasiswa dapat membaca berbagai fenomena keberagamaan secara kritis, ilmiah, dan kontekstual.

Dihadiri Inisiator KINMU dan Penggagas National Webinar

Kegiatan KINMU-NSW #6 turut dihadiri oleh Prof. Dr. Ris'an Rusli, M.Ag., selaku inisiator dan penggagas KINMU sekaligus penggagas National Webinar. Kehadiran Prof. Dr. Ris'an Rusli, M.Ag. menjadi bagian penting dalam perjalanan KINMU sebagai ruang kolaborasi akademik lintas perguruan tinggi. Gagasan KINMU diarahkan untuk membuka ruang bagi mahasiswa agar dapat saling bertukar gagasan, mengembangkan wawasan keislaman, serta membangun jejaring akademik dengan mahasiswa dari berbagai PTKIN.

Sementara itu, penyelenggaraan National Webinar menjadi bagian dari upaya memperluas ruang dialog akademik dengan menghadirkan pembahasan mengenai isu-isu keislaman dan sosial secara lebih luas. Melalui berbagai kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai peserta, tetapi juga diberikan ruang untuk berperan aktif dalam diskusi dan menyampaikan gagasan akademiknya.

Tujuh PTKIN Hadir dalam Konsorsium KINMU

KINMU-NSW #6 juga dihadiri oleh pimpinan dan peserta dari tujuh PTKIN yang tergabung dalam Konsorsium KINMU. Kehadiran ketujuh perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari semangat membangun kolaborasi dan jejaring akademik lintas kampus.

Keterlibatan berbagai PTKIN memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertemu dalam satu forum, berbagi pengalaman, serta melihat isu radikalisme dan moderasi beragama dari perspektif yang beragam. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi antarmahasiswa dan sivitas akademika dari berbagai daerah.

Hadirkan Akademisi dan Mahasiswa sebagai Narasumber

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Dzikri Nirwana, M.Ag. dari UIN Antasari Banjarmasin hadir sebagai Keynote Speaker. Sementara kegiatan dimoderatori oleh Sukma Ayu, mahasiswa UIN Alauddin Makassar.

Forum KINMU-NSW #6 juga menghadirkan mahasiswa dari tujuh PTKIN sebagai narasumber, yakni Silar Mayulita dari UIN Imam Bonjol Padang, Tiyas Dwi Rara Berliana dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Muhammad Alif Zibran dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Muhammad Khaerul Anam Ihyauddin dari UIN Alauddin Makassar, Baiq Fania Ulayya Afiatin dari UIN Mataram, Khoirunnisa dari UIN Raden Fatah Palembang, serta Siti Muthma'Inah dari UIN Antasari Banjarmasin.

Kehadiran mahasiswa sebagai narasumber memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan perspektif dan gagasan mereka mengenai tema yang dibahas. Forum ini sekaligus menjadi proses pembelajaran bagi mahasiswa dalam membangun argumentasi, mengembangkan kemampuan komunikasi akademik, serta berinteraksi dengan peserta dari berbagai latar belakang perguruan tinggi.

Membangun Ruang Dialog Akademik

KINMU-NSW #6 tidak hanya menjadi kegiatan seminar atau penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang dialog akademik yang mempertemukan berbagai perspektif. Pembahasan mengenai radikalisme dan moderasi beragama melalui perspektif Ushuluddin memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat persoalan keberagamaan secara lebih luas dan mendalam.

Dalam konteks perguruan tinggi, ruang dialog seperti ini memiliki arti penting karena mahasiswa dapat belajar memahami perbedaan perspektif sekaligus mengembangkan cara berpikir yang sistematis dan argumentatif. Diskusi akademik juga menjadi sarana untuk membangun tradisi intelektual yang mengedepankan kajian, argumentasi, dan pertukaran gagasan.

Keterlibatan tujuh PTKIN dalam Konsorsium KINMU menunjukkan adanya semangat untuk membangun kerja sama yang melampaui batas institusi. Pertemuan antarmahasiswa dari berbagai daerah juga membuka peluang terbentuknya jejaring akademik yang dapat terus dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan berikutnya.

Memperkuat Peran Mahasiswa dalam Tradisi Intelektual

Melalui KINMU-NSW #6, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengambil bagian dalam proses pengembangan tradisi intelektual. Mereka tidak hanya mendengarkan pemaparan dari narasumber, tetapi juga memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan dan berdiskusi mengenai isu yang tengah menjadi perhatian dalam kehidupan keagamaan dan sosial.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan keislaman, serta membangun kemampuan berdialog secara akademik. Dengan demikian, kegiatan KINMU tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan acara, tetapi juga pada pengembangan kapasitas mahasiswa dan penguatan jejaring akademik antarkampus.

Penyelenggaraan KINMU-NSW #6 menjadi salah satu gambaran bagaimana kolaborasi antara pimpinan, akademisi, dan mahasiswa dari berbagai PTKIN dapat menciptakan ruang diskusi yang produktif. Dengan dukungan Konsorsium KINMU serta gagasan yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Ris'an Rusli, M.Ag., kegiatan semacam ini diharapkan dapat terus berlanjut dan berkembang dalam berbagai bentuk, termasuk melalui National Webinar dan kegiatan akademik lainnya.

Pada akhirnya, KINMU-NSW #6 menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi akademik, kolaborasi lintas PTKIN, dan tradisi intelektual mahasiswa. Melalui forum yang membahas radikalisme dan moderasi beragama dalam perspektif Ushuluddin ini, mahasiswa diharapkan semakin memiliki ruang untuk memperluas pengetahuan, bertukar gagasan, dan berkontribusi dalam pengembangan kajian keislaman yang relevan dengan perkembangan masyarakat.